BAB atmosfer (Sudharto, 2014: 221). Peningkatan konsentrasi

BAB I

PENDAHULUAN

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

A.    Latar Belakang Masalah

Perubahan iklim (climate change) saat ini telah menjadi istilah yang akrab di
telinga masyarakat luas. Para ilmuwan berpendapat perubahan iklim terjadi
karena terjadi kenaikan suhu atmosfer bumi, atau yang biasa disebut pemanasan
global (global warming) (DNPI, 2013:
9). Global warming adalah suatu
keadaan yang terjadi di bumi, yang menunjukkan adanya kenaikan suhu rata-rata,
baik yang terjadi di udara atau atmosfer, daratan, maupun lautan (Effendie,
2016: 233). Kenaikan suhu atmosfer bumi disebabkan oleh meningkatnya
konsentrasi gas rumah kaca. Penyumbang terbesar adalah karbon dioksida (CO2), ozone, methane (CH4), nitrous oksida (N20) dan CFC yang makin banyak
jumlahnya di atmosfer (Sudharto, 2014: 221).

Peningkatan
konsentrasi gas rumah kaca membawa dampak bagi lingkungan hidup secara global.
Dampak lingkungan hidup ini secara garis besar meliputi perubahan suhu dan
iklim, peningkatan permukaan laut, kekeringan lahan atau tanah, penurunan
hasil-hasil pertanian, pemusnahan tumbuhan dan pemusnahan hewan, dan gangguan
terhadap kesehatan manusia, serta potensi kebakaran hutan (Effendie, 2016: 238).

Dalam
rangka mengurangi dampak dari permasalahan global, para pemimpin dunia menandatangani
sebuah perjanjian yang disebut Protokol Kyoto. Protokol Kyoto adalah
kesepakatan yang sudah disepakati oleh banyak

negara di dunia ini pada tahun 1997, untuk
mengurangi emisi gas-gas yang mengakibatkan efek rumah kaca sehingga proses
pemanasan global itu terjadi. Sesuai dengan kesepakatan itu, maka negara-negara
maju atau negara-negara industri yang memberikan kontribusi besar dalam
terciptanya emisi gas rumah kaca diminta untuk meratifikasi Protokol Kyoto
sebagai komiten dalam mengurangi emisi gas tersebut (Effendie, 2016: 241-242).

Dalam
upaya mengurangi emisi gas rumah kaca, Pemerintah Indonesia telah meratifikasi
Konvensi Perubahan Iklim melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994 tentang
Pengesahan United Nations Framework
Convention on Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan
Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim) dan melakukan ratifikasi Protokol Kyoto
melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2004 tentang Pengesahan Kyoto Protocol to The United Nations
Framework Convention on Climate Change (Protokol Kyoto atas Konvensi
Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim) (DJPPI,
2016: 9-11). Indonesia berkomitmen pada dunia untuk menurunkan emisi gas rumah
kaca nasional sebanyak 26 persen di bawah asas tidak-melakukan-apapun (business as usual) pada tahun 2020
(DNPI, 2013: 63).

Komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi
karbon dapat dilihat pula dari adanya Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2011
dan Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2011. Pada pasal 4 Peraturan Presiden
Nomor 61 Tahun 2011, disebutkan bahwa pelaku usaha juga ikut andil dalam upaya
penurunan emisi GRK. Upaya pengurangan emisi GRK (termasuk emisi karbon) yang
dilakukan oleh perusahaan sebagai pelaku usaha dapat diketahui dari
pengungkapan emisi karbon (carbon
emission disclosure) (Richatul dan Dul, 2014).

Pengungkapan emisi karbon (carbon emission disclosure) adalah pengungkapan
yang dilakukan oleh perusahaan terkait kegiatan perusahan yang berhubungan
dengan emisi karbon yang disebabkan oleh kegiatan operasional perusahaan.
Pengungkapan emisi karbon merupakan jenis pengungkapan lingkungan. Ada beberapa
faktor yang diduga mempengaruhi pengungkapan ini, diantaranya tipe industri,
profitabilitas, ukuran perusahaan, leverage,
dan media exposure.

Faktor pertama yang akan dijelaskan adalah
tipe industri. Tipe industri adalah pengklasifikasian perusahaan (industri)
manufaktur berdasarkan karakteristik tertentu. Alasan tipe industri diduga
memiliki pengaruh terhadap carbon
emission disclosure yaitu karena perusahaan dengan tipe high profile, seperti pertambangan dan
manufaktur, menghasilkan kerusakan lingkungan dan emisi karbon tinggi lebih
parah dibandingkan dengan jenis perusahaan low
profile, seperti yang bergerak di bidang jasa, perdagangan, dan lain
sebagainya (Bayu, 2016). Selain tipe industri, faktor lain yang diduga
mempengaruhi carbon emission disclosure
adalah profitabilitas. Rasio profitabilitas yaitu rasio untuk mengukur
kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan dari penggunaan modalnya (IAI,
2015: 155). Profitabilitas diduga memiliki pengaruh terhadap carbon emission disclosure karena
kontribusi dalam menjaga keberlanjutan lingkungan seperti mengganti mesin-mesin
produksi ramah lingkungan, ikut dalam kegiatan penanaman pohon, berusaha
mengurangi emisi dan melakukan pengungkapan akan lebih mungkin dilakukan oleh
perusahaan dengan kinerja lebih baik, sebab pengungkapan lingkungan membutuhkan
sumber daya lebih besar (Irwhantoko dan Basuki, 2016). Perusahaan dengan
kondisi keuangan yang baik lebih mungkin mengungkapkan informasi lingkungan
(Richatul dan Dul, 2014).

Selain tipe industri dan profitabilitas,
faktor selanjutnya yang akan dijelaskan yaitu ukuran perusahaan. Ukuran
perusahaan merupakan skala yang menunjukkan besar atau kecilnya suatu
perusahaan (Hery, 2017: 97-98). Alasan ukuran perusahaan diduga memiliki
pengaruh terhadap carbon emission
disclosure karena perusahaan besar memiliki tekanan yang lebih besar dari
masalah lingkungan, sehingga mereka cenderung untuk meningkatkan respon
terhadap lingkungan. Perusahaan besar lebih didorong untuk memberikan
pengungkapan sukarela yang berkualitas untuk mendapatkan legitimasi. Perusahaan
yang besar diharapkan dapat memberikan lebih banyak pengungkapan karbon
sukarela (Richatul dan Dul, 2014). Selain itu, perusahaan yang memiliki sumber
daya lebih besar akan lebih mampu dan lebih cepat menyediakan informasi pada
pihak eksternal. Sehingga antara perusahaan besar dengan perusahaan kecil,
potensi untuk menyediakan pengungkapan emisi karbon lebih mungkin dilakukan
oleh perusahaan berukuran besar (Irwhantoko dan Basuki, 2016).

Selain ketiga karakteristik faktor (tipe
industri, profitabilitas, dan ukuran perusahaan) yang telah dijelaskan di atas,
leverage juga diduga memiliki
pengaruh terhadap pengungkapan emisi karbon. Leverage ratio adalah rasio untuk mengukur seberapa besar kemampuan
perusahaan memenuhi semua kewajiban finansial jangka panjang (Wiratna, 2016:
132). Kewajiban yang lebih besar dari utang dan pembayaran kembali bunga akan
membatasi kemampuan perusahaan untuk melakukan strategi pengurangan dan
pengungkapan karbon. Perusahaan dengan leverage
yang tinggi akan lebih berhati-hati dalam mengurangi dan mengungkapkannya,
terutama menyangkut mengenai pengeluaran-pengeluaran yang berkaitan dengan
tindakan pencegahan karbon (Luo et al, 2013).

Selain tipe industri, profitabilitas, ukuran
perusahaan, dan leverage, hal lain
yang diduga memiliki pengaruh terhadap carbon
emission disclosure yakni media
exposure (pengungkapan media). Media
exposure adalah pengungkapan informasi tentang perusahaan melalui media. Media exposure diduga berpengaruh karena
media juga berperan penting dalam mengkomunikasikan suatu informasi kepada
masyarakat. Informasi mengenai aktivitas perusahaan juga termasuk dalam
informasi yang dapat dikomunikasikan kepada masyarakat. Perusahaan perlu
mewaspadai media yang mengawasi kegiatannya karena berkaitan dengan nilai dan
reputasi perusahaan tersebut (Richatul dan Dul, 2014). Perusahaan dalam hal ini
mempunyai kewajiban moral untuk mengungkapkan aktivitasnya, tidak hanya
terbatas pada aspek keuangan, tetapi aspek sosial dan lingkungan. Semakin media
tersebut aktif mengawasi lingkungan suatu negara, maka perusahaan akan semakin
terpacu untuk mengungkapkan aktivitasnya (Nur dan Priantinah, 2012 dalam Putri
dan Vita, 2016).

Pengungkapan emisi karbon yang dilakukan
perusahaan dapat diketahui melalui media annual
report maupun sustainability report.
Bidang khusus seperti
akuntansi pertanggungjawaban, intellectual
capital, dan pengungkapan
lingkungan memiliki
kesesuaian dengan teori legitimasi dan teori stakeholder (Sharma, 2013).

Teori legitimasi merupakan teori yang paling
sering digunakan dalam menjelaskan pengungkapan lingkungan (Syafia, 2017). Yang
melandasi teori legitimasi adalah kontrak sosial yang terjadi antara perusahaan
dengan masyarakat, dimana perusahaan beroperasi dan menggunakan sumber ekonomi
(Yunus, 2014). Teori legitimasi berfokus pada hubungan antara perusahaan dan
masyarakat melalui peraturan yang dibuat oleh pemerintah. Ketika terdapat
perbedaan antara perusahaan dengan masyarakat terkait dengan nilai yang dianut,
atau disebut “legitimation gap”, maka
pada saat itu legitimasi perusahaan berada pada posisi terancam dan mampu
mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk melanjutkan kegiatan usahanya (Irwhantoko
dan Basuki, 2016). Berdasarkan teori legitimasi tersebut, perusahaan berusaha
memenuhi nilai-nilai yang diinginkan masyarakat, termasuk pengungkapan
lingkungan, agar masyarakat puas terhadap aktivitas perusahaan.

Selain teori legitimasi, teori yang berhubungan
dengan pengungkapan lingkungan yaitu teori stakeholder
(stakeholder theory). Menurut teori stakeholder, akuntansi jangan hanya
mementingkan informasi bagi pemilik entity,
tapi juga pihak lainnya yang juga memberikan kontribusi langsung dan tidak langsung
kepada eksistensi dan keberhasilan suatu perusahaan atau lembaga (Sofyan, 2012:
77). Berdasarkan stakeholder theory,
untuk mendapatkan dukungan dari stakeholder
demi kelangsungan hidup usahanya, perusahaan berusaha mengungkapkan informasi
yang diinginkan stakeholder, termasuk
carbon emission disclosure.

Beberapa penelitian sebelumnya yang berkaitan
dengan carbon emission disclosure,
yaitu tipe industri yang dilakukan oleh Choi et al (2013) yang melakukan
penelitian terhadap 100 perusahaan yang terdaftar di Australian Securities Exchange periode 2006-2008, berkesimpulan
bahwa tipe industri berpengaruh terhadap tingkat carbon emission disclosure. Hasil penelitian tersebut mendukung
hasil penelitian yang dilakukan oleh Chu et al (2013) yang melakukan penelitian
terhadap 100 perusahaan di Shanghai Stock
Exchange, Richatul dan Dul (2014) yang melakukan penelitian terhadap
perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2012, Ben-Amar
et al (2015) yang melakukan penelitian terhadap perusahaan di Canadian Spencer Stuart Board Index (CSSBI)
periode 2008–2014, Bayu (2016) yang melakukan penelitian terhadap perusahaan go public berbasis syariah di Indonesia,
serta Putri dan Vita (2016) yang melakukan penelitian terhadap perusahaan non
industri jasa yang terdaftar di BEI periode 2012-2014, berkesimpulan bahwa tipe
industri berpengaruh terhadap carbon
emission disclosure. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Ghomi dan
Leung (2013) serta Wedi dkk (2016) menyatakan bahwa tipe industri tidak
berpengaruh terhadap carbon emission
disclosure.

Penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan carbon emission disclosure, yaitu
profitabilitas, yang dilakukan oleh Choi et al (2013), Chu et al (2013), Luo et
al (2013), Richatul dan Dul (2014), Liao et al (2015), Liesen et al (2015),
Rizqi dan Imam (2015) serta Bayu (2016) menemukan bahwa profitabilitas
berpengaruh positif terhadap carbon
emission disclosure. Sedangkan hasil penelitian Ben-amar et al (2015),
Irwhantoko dan Basuki (2016), Wedi dkk (2016), serta Putri dan Vita (2016)
menyatakan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh terhadap carbon emission disclosure.

Pengaruh ukuran perusahaan terhadap carbon emission disclosure yang diteliti
oleh Choi et al (2013), Chu et al (2013), Ghomi dan Leung (2013), Luo et al
(2013), Matsumura (2014), Richatul dan Dul 
(2014), Liao et al (2015), Liesen et al (2015) serta Rizqi dan Imam
(2015) menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap carbon emission disclosure. Sedangkan
Bayu (2016), Irwhantoko dan Basuki (2016), serta Wedi dkk (2016) dalam
penelitiannya menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap carbon emission disclosure.

Pengaruh leverage
terhadap carbon emission disclosure
diungkapkan dalam hasil penelitian Choi et al (2013), Ghomi dan Leung (2013),
Luo et al (2013), Matsumura (2014), Richatul dan Dul (2014), Ben-Amar (2015),
Liao et al (2015), Liesen et al (2015) serta Rizqi dan Imam (2015), yang menyatakan
bahwa leverage berpengaruh terhadap carbon emission disclosure. Hal tersebut
berbeda dengan hasil penelitian Wedi dkk (2016) yang menyatakan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap carbon emission disclosure.

Rizqi dan Imam (2015), Wedi dkk (2016) serta
Richatul dan Dul (2014) dalam penelitiannya menyatakan bahwa media exposure berpengaruh terhadap carbon emission disclosure. Sedangkan
penelitian yang dilakukan oleh Bayu (2016) serta Putri dan Vita (2016)
menyatakan bahwa media exposure tidak
berpengaruh terhadap carbon emission
disclosure.

Fenomena di lapangan menunjukkan masih
lemahnya pengungkapan emisi karbon (carbon
emission disclosure) dan ketaatan dalam pengelolaan lingkungan hidup, hal
ini dibuktikan dengan masih banyaknya perusahaan yang mendapatkan peringkat
merah bahkan hitam pada Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam
Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) yang merupakan program dari Kementrian
Lingkungan Hidup. Hal itu sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Virgayanti (2013), yang menemukan bahwa masih lemahnya pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nation Framework Convention on Climate Change dan
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2004 tentang Pengesahan Kyoto Protocol to the United Nation
Framework Convention on Climate Change.

Berdasarkan uraian latar belakang masalah,
maka penelitian lebih lanjut terhadap masalah ini masih perlu dilakukan.
Penelitian akan dilakukan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia, alasan dipilihnya perusahaan manufaktur karena perusahaan
manufaktur menghasilkan emisi karbon lebih tinggi sehingga lebih relevan untuk
melakukan pengungkapan emisi karbon, penelitian ini juga akan menggunakan data
tahun terbaru, yaitu data tahun periode 2014-2016. Maka dari itu, peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Carbon Emission Disclosure: Ditinjau
dari Tipe Industri, Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, Leverage dan Media Exposure
(Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia).

 

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan
dari uraian latar belakang di atas, maka permasalahan yang dapat dikemukakan
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Bagaimanakah pengaruh tipe industri,
profitabilitas, ukuran perusahaan, leverage
dan media exposure terhadap carbon emission disclosure?

 

C.    Tujuan Penelitian

Berdasarkan
dari perumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

Untuk mengetahui pengaruh tipe industri, profitabilitas, ukuran
perusahaan, leverage dan media exposure terhadap carbon emission disclosure.

 

D.    Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan di atas, maka penelitian
ini diharapkan memberikan manfaat bagi semua pihak, diantaranya:

1.     
Bagi Peneliti

Sebagai bukti empiris yang ada tentang
pengaruh karakteristik perusahaan, leverage
dan media exposure terhadap carbon emission disclosure.

 

2.     
Bagi Perusahaan

Diharapkan dapat memberikan bahan masukan dan
bahan pertimbangan untuk mengevaluasi dalam pengungkapan emisi karbon (carbon emission disclosure).

3.     
Bagi Almamater

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi
referensi tambahan, menambah ilmu pengetahuan, serta dapat menjadi acuan atau
kajian bagi penulisan di masa yang akan datang.